Pengetahuan only

WELCOME TO MY BLOG

HOPEFULLY CAN HELP YOU


Jumat, 15 April 2011

KELAHIRAN KEMBALI DALAM AJARAN HINDU

KAJIAN HINDU

KELAHIRAN KEMBALI DALAM AJARAN HINDU


Kelahiran kembali  dalam ajaran agama Hindu disebut dengan punarbhawa merupakan sesuatu hal yang ditunggu karena berhubungan dengan karmaphala yang kita perbuat di kehidupan masa lalu dan Jiwatman yang masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian akan diikuti oleh kelahiran. Akan tetapi Kelahiran kembali juga harus dihindari karena merupakan penghambat dari tujuan agama Hindu yaitu moksa yang merupakan kelepasan atau kebebasan atma (roh) dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran Reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan, selanjutnya atma (roh) tersebut akan Kembali bersatu dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) yang kekal dan abadi.
Kelahiran kembali memiliki hubungan yang erat dengan ajaran Tri Rna yaitu tiga hutang yang harus dibayar sehubungan dengan keberadaan kita. Pertama yaitu Dewa Rna merupakan  hutang yang harus dibayar kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menyebabkan kita ada di dunia ini. Rna yang kedua yaitu hutang yang harus dibayar manusia kepada leluhur termasuk orang tua kita, karena jasa para Leluhur dan orang Tua kita  yang sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasa hidup. Rna yang ketiga yaitu Hutang yang harus dibayar kepada para Rsi, pendeta, dan para guru lainya atas bimbingannya selama ini dan mendidik manusia untuk belajar kebenaran. Ketiga hutang tersebut harus dibayar dengan perbuatan-perbuatan yang baik pada kehidupan sekarang ini. Contohnya perbutan sederhana yang harus dilakukan untuk membayar hutang tersebut yaitu yang pertama hutang kepada Tuhan, dilakukan dengan cara rajin sembahyang dan saling meghormati, saling menyayangi sesama mahluk ciptaan Tuhan. Hutang kepada para leluhur yaitu dengan jalan menghormati dan selalu mengingat leluhur kita dimanapun kita berada dan apapun yang kita kerjakan serta dengan menghormati dan menyayangi kedua orang tua kita. Hutang yang ketiga yaitu hutang kepada para Rsi atau para guru dengan cara menghormati dan melaksanakan ajaran-ajaran serta tugas-tugas yang mereka berikan dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.    
Sebab sebagai manusia sekarang ini adalah akibat baik dan buruknya karma itu juga akhirnya dinikmatilah karma phala itu. Artinya baik buruk perbuatan itu sekarang akhirnya terbukti hasilnya. Selesai menikmatinya, menjelmalah kembali ia, mengikuti sifat karma phala. Wasana berarti sangskara, sisa-sisa yang ada dari bau sesuatu yang tinggal bekas-bekasnya saja yang diikuti hukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah-kawah neraka, adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah ia berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan-perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.

Karma dan Punarbhawa ini merupakan suatu proses yang terjalin erat satu sama lain. Secara singkat dapat dikatakan bahwa karma adalah perbuatan yang meliputi segala gerak, baik pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Sedangkan punarbhawa adalah kesimpulan dari semua karma itu yang terwujud dalam penjelmaan tersebut. Setiap karma yang dilakukan atas dorongan acubha karma akan menimbulkan dosa dan Atman akan mengalami neraka serta dalam Punarbhawa yang akan datang akan mengalami penjelmaan dalam tingkat yang lebih rendah, sengsara, atau menderita dan bahkan dapat menjadi mahluk yang lebih rendah tingkatannya. Sebaliknya, setiap karma yang dilakukan berdasarkan cubhakarma akan mengakibatkan Atman (roh) menuju sorga dan jika menjelma kembali akan mengalami tingkat penjelmaan yang lebih sempurna atau lebih tinggi
Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.
Sedangkan orang yang selalu berbuat baik (cubhakarma), Sarasmuccaya menyebutkan: "Adapun orang yang selalu melakukan karma baik (cubhakarma), ia dikemudian hari akan menjelma dari sorga, menjadi orang yang tampan (cantik), berguna, berkedudukan tinggi, kaya raya dan berderajat mulia. Itulah hasil yang didapatnya sebagai hasil (phala) dari perbuatan yang baik".
Kesimpulannya, dengan keyakinan dengan adanya Punarbhawa ini maka orang harus sadar, bahwa bagaimana kelahirannya tergantung dari karma wasananya. Kalau ia membawa karma yang baik, lahirlah ia menjadi orang berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya bila orang membawa karma yang buruk, ia akan lahir menjadi orang yang menderita. Oleh karena itu kelahiran kembali ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri untuk meningkat ke taraf yang lebih tinggi.

1 komentar:

  1. kan, tadi ad pnjelsan "Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.
    'Sedangkan orang yang selalu berbuat baik (cubhakarma), Sarasmuccaya menyebutkan: "Adapun orang yang selalu melakukan karma baik (cubhakarma), ia dikemudian hari akan menjelma dari sorga, menjadi orang yang tampan (cantik), berguna, berkedudukan tinggi, kaya raya dan berderajat mulia. Itulah hasil yang didapatnya sebagai hasil (phala) dari perbuatan yang baik".
    dari kata 'sedangkan' itu, knp tdk ad pnjelasan, apakah stelah dia menjadi org hina, sengsara(menglmai peningkatan), ia tidak mengalami kelahiran yg meningkat lagi?
    kn awwalny tdk prcay dgn dharma, lahir dia jadi binatang, kemudian stelh itu mengalami kelahiran yg meningkat, menjadi manusia yg hina, nah setelah itu apkh dia tidk mengalami kelahiran yg meningkat lagi?
    mohon jawabannya:)

    BalasHapus